ISL 2013-2014 sudah berjalan dan tim yang saya banggakan
harus terperosok jatuh hingga kedasar klasemen, sebuah tempat yang tak
seharusnya disinggahi oleh tim sebesar Persija Jakarta. Entah apa yang terjadi
namun sejak adanya dualisme, Persija
seakan sulit mengikuti roda perputaran kompetisi. Entah apakah ada konspirasi
didalamnya saya pun tak mengerti namun
ada saja masalah yang seakan dibuat untuk menjatuhkan tim ini. Dimulai dari
dana hingga adanya klub tandingan yang seakan bangga menyatakan dirinya adalah yang sah.
Disini saya tak akan membicarakan faktor internal yang
membuat Persija hancur, namun lebih kepada faktor eksternalnya. Flash back ke
belakang PSSI yang harusnya menjadi pemersatu malah menimbulkan gerakan-gerakan
seperatis hingga akhirnya lahirlah KPSI yang akhirnya memperlihatkan
kepentingan-kepentingannya juga. Sepak bola tak pernah lepas dari politik biar
bagaimanapun keduanya saling bermutualisme, sepak bola butuh dana yang selama
ini didukung oleh para politikus dan politik butuh dukungan dari para supporter
untuk mewudkan mimpinya (Re: Menjadi pemimpin).
Sebagai orang yang hanya menjadikan sepak bola sebagai
hiburan, sungguh miris melihat apa yang terjadi pada bola negeri ini ketika
politik sudah masuk dan menempatkan dirinya hilang sudah nilai-nilai fair play
dalam olahraga yang selama ini dianggap sebagai agama kedua ini.
Kenapa semua itu saya sebut sebagai faktor yang secara tidak
langsung ikut menganghancurkan persija, adanya dualisme jelas mengurungkan niat
para investor ataupun sponsor untuk berperan lebih, seperti kita ketahui sejak
distopnya dana APBD selain pemasukan dari tiket, sponsor adalah sumber kehidupan klub-klub
Indonesia termasuk Persija.
Menjadi seorang
supporter adalah kebebasan tak ada yang melarang kita untuk berbuat apa tapi
jelas jangan melanggar norma-norma yang sudah tertanam sejak lama, saya sempat
teringat kata-kata seorang Aremania “Supporter itu datang ke Stadion beli
tiket, nyanyi, joget-joget sama sekali tak ada unsur politiknya kan “ sebuah
kata-kata yang amat sederhana namun penuh dengan makan tersirat didalamnya .
Sebuah mimpi semua penikmat bola negeri ini adalah sepak
bola kembali ke kulturnya, yang menjadi hiburan dan pemersatu bangsa bukan
malah mengkotak-kotakan hingga akhirnya malah membuat sepak bola hanyalah
sebuah bahan mainan. Sepak bola lepas dari politik ? saya rasa tidak untuk saat
ini, kebobrokan bola Indonesia sudah pada titik nadirnya harus ada seorang
pembeda yang bersih dari unsur politik.
Percaya lah selama politik bermain dengan enaknya didalam sepak bola selama itu
pula kita hanya lah mainan bagi mereka para penguasa
Salam saya untuk para pecinta bola negeri ini yang masih memiliki mimpi
#BangkitPersija
Tidak ada komentar:
Posting Komentar