Jumat, 22 Februari 2013

POLITIK IS BULLSHIT



ISL 2013-2014 sudah berjalan dan tim yang saya banggakan harus terperosok jatuh hingga kedasar klasemen, sebuah tempat yang tak seharusnya disinggahi oleh tim sebesar Persija Jakarta. Entah apa yang terjadi namun sejak adanya dualisme,  Persija seakan sulit mengikuti roda perputaran kompetisi. Entah apakah ada konspirasi didalamnya  saya pun tak mengerti namun ada saja masalah yang seakan dibuat untuk menjatuhkan tim ini. Dimulai dari dana hingga adanya klub tandingan yang seakan bangga menyatakan  dirinya adalah yang sah. 


Disini saya tak akan membicarakan faktor internal yang membuat Persija hancur, namun lebih kepada faktor eksternalnya. Flash back ke belakang PSSI yang harusnya menjadi pemersatu malah menimbulkan gerakan-gerakan seperatis hingga akhirnya lahirlah KPSI yang akhirnya memperlihatkan kepentingan-kepentingannya juga. Sepak bola tak pernah lepas dari politik biar bagaimanapun keduanya saling bermutualisme, sepak bola butuh dana yang selama ini didukung oleh para politikus dan politik butuh dukungan dari para supporter untuk mewudkan mimpinya (Re: Menjadi pemimpin).

Sebagai orang yang hanya menjadikan sepak bola sebagai hiburan, sungguh miris melihat apa yang terjadi pada bola negeri ini ketika politik sudah masuk dan menempatkan dirinya hilang sudah nilai-nilai fair play dalam olahraga yang selama ini dianggap sebagai agama kedua ini.
Kenapa semua itu saya sebut sebagai faktor yang secara tidak langsung ikut menganghancurkan persija, adanya dualisme jelas mengurungkan niat para investor ataupun sponsor untuk berperan lebih, seperti kita ketahui sejak distopnya dana APBD selain pemasukan dari tiket,  sponsor adalah sumber kehidupan klub-klub Indonesia termasuk Persija. 

 Menjadi seorang supporter adalah kebebasan tak ada yang melarang kita untuk berbuat apa tapi jelas jangan melanggar norma-norma yang sudah tertanam sejak lama, saya sempat teringat kata-kata seorang Aremania “Supporter itu datang ke Stadion beli tiket, nyanyi, joget-joget sama sekali tak ada unsur politiknya kan “ sebuah kata-kata yang amat sederhana namun penuh dengan makan tersirat didalamnya .

Sebuah mimpi semua penikmat bola negeri ini adalah sepak bola kembali ke kulturnya, yang menjadi hiburan dan pemersatu bangsa bukan malah mengkotak-kotakan hingga akhirnya malah membuat sepak bola hanyalah sebuah bahan mainan. Sepak bola lepas dari politik ? saya rasa tidak untuk saat ini, kebobrokan bola Indonesia sudah pada titik nadirnya harus ada seorang pembeda yang bersih dari  unsur politik. Percaya lah selama politik bermain dengan enaknya didalam sepak bola selama itu pula kita hanya lah mainan bagi mereka para penguasa 

Salam saya untuk para pecinta bola negeri ini yang masih memiliki mimpi   
#BangkitPersija

Tidak ada komentar:

Posting Komentar